Banyak diantara kita sering menjumpai, artikel artikel yang membahas ayat-ayat Al Qur'an yang dihubung-hubungkan dengan logika sang penulis. Atau ada juga yang mencari-cari kebenaran dalam Al Qur'an dari segi ilmiah. Ada penelitian yang mencari-cari kebenaran mengenai mengapa babi itu haram, air liur anjing adalah najis, mengapa Ka'bah dijadikan kiblat umat Islam ketika sholat.Ada lagi yang sibuk menghitung jumlah huruf dalam suatu surat dan dihubung-hubungkan secara logika.
Perlukah?
Apakah harus dengan cara itu kita mencari kebenaran Allah yg tercantum dalam Al Qur'an. ?
Jika masih beriman, kita harus secara mutlak mengatakan bahwa kebenaran Allah adalah mutlak. Tidak perlu kita mencari-cari kebenaran yang tercantum dalam Al Qur'an. Semuanya tanpa ada keraguan.
Jika dalam ayat Al Qur'an menyatakan bahwa babi itu haram, maka jauhilah. Jika kita diperintah bersujud, bersujudlah tanpa keraguan.Tidak perlu kita menelaah lagi dengan semua yang tercantum didalam Al Qur'an, karena Al Qur'an adalah logika Allah. Dan kita tidak akan pernah mengerti dengan logika Allah.
Apakah Allah berlogika saja kita tidak akan mengerti, Wallahu 'alam.
Kita hanya diberi sedikit ilmu dari Allah, sehingga kita mengetahui isi Al Qur'an.Dengan menafsirkan dalam bahasa manusia.
Coba lihat satu ayat saja, Alif Lam Mim (QS Al Baqarah : 1) . Adakah yang tahu makna sesungguhnya dari ayat tersebut. Manusia sebagai makhluk hanya bisa menafsirkan, dan menerka. Tapi apakah tepat penafsiran tersebut. Wallahu 'alam
Marilah kita mengakui kebenaran Allah secara mutlak, kebenaran Al Qur'an secara mutlak dan masuk Islam dengan kaffah.Jalankan setiap perintah dan jauhi semua larangan. Tanpa harus bertanya-tanya.
Wallahu 'alam bissawab
Ditulis dengan logikaku sebagai makhluk, dan kemungkinan berbeda logika dengan makhluk yang lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar